×

Stay in The know

Events

Artistik dan Penuh Makna, Pertunjukkan 'Planet Sebuah Lament' Karya Garin Nugroho Wajib Disaksikan!

Artistik dan Penuh Makna, Pertunjukkan 'Planet Sebuah Lament' Karya Garin Nugroho Wajib Disaksikan!
Andiasti Ajani

Fri, 17 January 2020 at 14.04

Pertunjukkan ‘Planet Sebuah Lament’ dipentaskan di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, pada 17-18 Januari 2020.

Durasi baca: 1 menit


Garin Nugroho. Mendengar namanya, sebagian dari Anda pasti langsung terpikir bahwa beliau adalah seorang sutradara andal dan ternama yang dimiliki oleh Indonesia. Sebut saja film-film seperti Daun di Atas Bantal, Soegija (baca: sugiya), Marlina Pembunuh 4 Babak, Aakh... Aku Jatuh Cinta, Guru Bangsa Tjokroaminoto, hingga yang terbaru adalah Kucumbu Tubuh Indahku.


Tapi tahukah Anda, selain sukses di dunia film, Garin juga sukses bertindak sebagai sutradara pertunjukkan. Tahun ini, Garin kembali lewat sebuah pertunjukkan bertajuk ‘Planet Sebuah Lament’.  ‘Planet Sebuah Lament’ adalah pertunjukkan yang bercerita tentang perdamaian dan isu lingkungan hidup yang telah rusak karena ulah manusia.


“Manusia lebih banyak mencipta benda-benda mati yang tak terurai, daripada merawat benda hidup. Lalu di manakah angin, api, air, hingga tanah bisa bermain, ketika alam tertutup benda mati. Mungkin bencana alam selama ini, karena mereka kehilangan alam bermain?” tulis Garin seperti yang dikutip dari buku acara pertunjukkan ‘Planet Sebuah Lament’.

(BACA JUGA: Sutradara Garin Nugroho Siap Pentaskan Pertunjukkan Tari Bertajuk ‘Planet Sebuah Lament’)


Lament sendiri adalah lagu ratapan. Lewat pertunjukkan ini Garin ingin menunjukkan bahwa planet atau bumi yang kita pijak ini, sedang meratap bersedih karena kondisinya tidak lagi sehat. Banyak kerusakan di mana-mana. Garin sendiri mengaku tertarik dengan lament sejak tujuh tahun lalu.


Menurutnya, lament hidup di sudut-sudut nusantara purba. Bahkan lament sudah menjadi ratapan sejarah purba dunia. Mulai dari hilangnya kota-kota, hingga rusaknya peradaban karena perang atau bencana alam. Pertunjukkan ‘Planet Sebuah Lament’ berlangsung selama kurang lebih 90 menit.


Pertunjukkan dimulai dengan pemutaran film pendek, berdurasi sekitar 3 sampai 5 menit. Di film tersebut terlihat seorang perempuan menanam biji-bijian atau benih di atas pasir yang kemudian tersapu oleh ombak.


Kemudian setelah film selesai, perempuan tersebut muncul di atas panggung sambil menyanyikan lagu yang jujur saja tidak jelas apa liriknya. Tetapi begitu menyiratkan sebuah kepedihan dan kepiluan.



  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke