×

Stay in The know

Events

Film Pendek Pemenang Police Movie Festival IV 2017 ini Diduga Melecehkan, Benarkah?

Film Pendek Pemenang Police Movie Festival IV 2017 ini Diduga Melecehkan, Benarkah?
Ayu Utami

Wed, 12 July 2017 at 19.00

Ini dia penjelasan sang sutradara mengenai pesan sebenarnya dari film tersebut.

Perlombaan film pendek Police Movie Festival IV 2017 yang didukung penuh oleh Markas Besar Polisi Republik Indonesia (MABES POLRI) telah mengumumkan pemenangnya pada bulan Juni 2017 lalu. Namun, pemenang film pendek yang berjudul Kau Adalah Aku yang Lain tersebut menuai kontroversi lantaran dianggap memojokkan salah satu kelompok tertentu dan dinilai memuat unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). 

Pada awalnya, film pendek Kau Adalah Aku yang Lain ini telah diunggah pertama kali oleh akun Youtube DIV HUMAS POLRI dan disebarluaskan ke Facebook hingga Twitter resmi milik POLRI. Bukannya menuai pujian, film tersebut malah mendapatkan kritik bertubi dari netizen Twitter dengan menggunakan tagar #PolriProvokatorSARA, lantaran dinilai memprovokasi kelompok tertentu.

I've seen the video and I don't happy about it. Shame on you for spreading the hate and provocation #PolriProvokatorSARA,” ujar pemilik akun @luthfiarf. Komentar akun @angenbagas ikut menambahkan protesnya mengenai pemenang festival film pendek tersebut. “Kepada bapak @DivHumasPolri. Jika aparat yang melanggar kami sebagai umat Islam mau lapor kemana??? #PolriProvokatorSARA,” tuturnya. Karenanya, film pendek berdurasi 7 menit 41 detik yang tadinya dapat ditonton di akun Youtube DIV HUMAS POLRI tersebut telah ditarik. 

Anto Galon sang sutradara film tersebut mengungkapkan, film ini memiliki pesan bahwa Islam merupakan agama yang bertoleransi. Hal tersebut ditandai oleh salah satu tokoh berpeci yang meminta tolong kepada tokoh ‘Si Mbah’ untuk dibukakan akses jalan yang sedang dipakai untuk kegiatan pengajian. Akses jalan tersebut perlu dibuka agar ambulans yang sedang mengangkut pasien beragama Kristen dapat lewat. 

Menurut Anton, tokoh ‘Si Mbah’ sebenarnya memberikan pesan kepada masyarakat bahwa di negara ini masih banyak oknum-oknum yang kolot dan intoleran—bukan hanya masyarkat yang beragama Islam. Dalam permintaan maafnya kepada media, ia juga berpesan bahwa, “Tonton film tersebut secara utuh dan resapi. Film ini sendiri adalah sebuah renungan bagi saya sebagai seorang Muslim, sehingga saya tidak menjadi oknum seperti yang ‘si Mbah’ gambarkan dalam film tersebut.

Apakah Anda sempat menontonnya? Bagaimana tanggapan Anda?

(Maghfira Farhana, foto: Slon.pics/Freepik.com)

You Might Also LIke