×

Stay in The know

Style

Kain Pinawetengan: Kain Tradisi Sulawesi Utara yang Tak Kalah Memikat

Kain Pinawetengan: Kain Tradisi Sulawesi Utara yang Tak Kalah Memikat
Anggia Hapsari

Sun, 15 March 2020 at 18.36

Busana siap pakai dengan corak Minahasa untuk acara spesial.

Durasi baca: 1 menit


Indonesia memang kaya akan berbagai budaya. Hal ini dapat Anda lihat pada berbagai seni budaya khas daerah. Pada wastra nusantara misalnya, Anda dapat menemukan kain batik, kain tenun, hingga kain Bentenan dan kain Pinatikan khas Minahasa. 


Sayang, sekitar 100 tahun lalu, kedua kain tidak lagi diproduksi dan dipakai oleh masyarakat setempat. Alasannya simpang siur. Hingga saat ini belum ada tulisan dengan alasan yang sahih mengenai kepunahan kain dari Minahasa itu. 

(BACA JUGA: Celana Pendek akan Naik Daun Tahun 2020)



Kondisi kekosongan ini membuat Yayasan Institut Seni dan Budaya Sulawesi Utara yang berada di bawah pimpinan Irjen. Pol. (purn)Benry Mamoto berinisiatif untuk mengembangkan kain bercorak ciri khas Minahasa berlandaskan kearifan lokal budaya Minahasa yang tertera pada situs budaya Watu Pinawetengan. Kain itu dinamakan kain Pinawetengan.


GELIAT KAIN PINAWETENGAN

Awalnya, kain Pinawetengan itu hanya memproduksi kain bermotif yang ada di Watu Pinawetengan dalam bentuk print lengkap dengan nuansa khas Minahasa yang mencolok. Berbagai corak ditampilkan mulai dari corak bunga cengkeh hingga fauna bahari. 


Dari kain print, kain Pinawetengan pun mengembangkan tenun ikat dan tenun songket dengan beragam motif tradisional khas Minahasa. Mamoto pun sangat serius menggarap kain Pinawetengan ini sehingga kain Pinawetengan ini telah memiliki hak paten. 


Karena pembuatan kain yang rumit dan memakan waktu lama, kain Pinawetengan ini memiliki harga yang cukup tinggi. Harga tersebut tentu membuat kain ini belum tentu bisa dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat. Padahal inilah yang ingin dicapai oleh Mamoto.

(BACA JUGA: Street Style Milan Fashion Week Spring/Summer 2020: Padu Padan Fresh dan Modis)


RUMAH KAIN PINAWETENGAN 

Berangkat dari latar belakang di atas, hal tersebut membuat Irjen. Pol. (purn)Benry Mamoto dan Iyarita Mamoto mempersembahkan busana siap pakai berbahan dasar kain print Pinawetengan. Seluruh busana itu bisa ditemukan di Rumah Kain Pinawetengan yang ada di Humble House, Jakarta.


Bersama dengan Denny Malik, Mamoto menghadirkan busana siap pakai bertajuk Kawan yang ditujukan bagi setiap perempuan dan laki-laki yang ingin tampil modis dengan kain corak khas Minahasa. 


Selain busana siap pakai, ada juga kain dengan corak khas Minahasa yang dapat Anda temukan di Rumah Kain Pinawetengan. Mulai dari tenun ikat dengan harga IDR 1juta per meter, tenun songket yang dijual dengan harga IDR 3,5 juta per lembar, hingga kain print corak Pinawetengan seharga mulai dari IDR 90.000 hingga IDR 150.000 per meter.

(Anggia Hapsari, foto: Tim Muara Bagdja) 


You Might Also LIke