×

Stay in The know

Style

Modal Hingga Ditinggal Karyawan, Inilah Tantangan yang Dihadapi Mita Hutagalung Saat Membangun Brand BYARRA

Modal Hingga Ditinggal Karyawan, Inilah Tantangan yang Dihadapi Mita Hutagalung Saat Membangun Brand BYARRA
Andiasti Ajani

Sun, 8 March 2020 at 16.05

Sangat inspiratif dan patut dicontoh!

Durasi baca: 1 menit.


Beberapa waktu lalu, GLITZMEDIA.CO mendapat kesempatan berharga untuk bertatap muka dan berbincang dengan salah satu desainer sekaligus pemilik dari brand fashion BYARRA. BYARRA merupakan sebuah brand fashion yang didirikan kurang lebih lima tahun lalu, oleh seorang perempuan cantik yang tidak punya latar belakang bisnis mode bernama Mita Hutagalung.


“Aku itu basic pendidikannya adalah hukum. Tetapi kenapa aku akhirnya belok mau jadi desainer adalah karena beberapa tahun sebelum aku membangun BYARRA, aku pernah kolaborasi bikin baju anak-anak sama teman. Namun karena kesibukan, brand tersebut tidak jalan. Tapi aku berpikir sayang juga ya nih nggak jalan. Akhirnya aku beli si brand ini, terus aku yang jalanin."


"Aku terlahir dari keluarga pengusaha. Sehingga keinginan untuk berbisnis tuh besar sekali. Ditambah ibuku dulu juga sekolah desain. Jadi memutuskan untuk berbisnis di dunia fashion itu merupakan sebuah keputusan yang relate dengan latar belakang kehidupanku," tambahnya.


Sebagai seorang Leo yang ambisius, Mita kemudian ingin mencapai suatu hal yang lebih. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk membangun BYARRA. Kepada GLITZMEDIA.CO, Mita bercerita bahwa proses saat ia membangun BYARRA itu sulit sekali. Perempuan yang lahir dari keluarga Arion Paramita Group ini mengatakan, sistem pemasaran hingga modal adalah beberapa tantangan yang harus ia hadapi di awal berdirinya BYARRA.


“Meskipun aku tidak punya basic desainer, tetapi aku sangat serius dengan bisnis ini. Bahkan kalau boleh cerita di awal-awal aku dan adikku ingin membangun BYARRA, kami itu mengalami banyak sekali kesulitan. Salah satunya adalah modal. Bahkan saat itu ayah kami bisa dibilang tidak mau membantu dengan kasih modal,” ujarnya.

(BACA JUGA: Disiplin dan Konsisten, Jadi Rahasia di Balik Eksistensi Brand Fashion BYARRA)


Tidak diberi modal ternyata tidak menggentarkan sikap Mita. Ia merasa itu menjadi tantangan baru, bahwa ia harus bisa sukses meskipun tidak disokong dana oleh ayahnya.


“Meskipun pada akhirnya ayah kami kasih uang untuk modal. Tetapi sistemnya pinjam dan kita harus kembalikan uangnya dalam kurun waktu atau term yang dia tentukan. Percaya nggak, bahkan ya uang hasil pinjaman itu ada bunganya. Persis kaya pinjam uang ke bank.”


"Tapi berkat didikan orangtua yang basic-nya adalah pebisnis, aku jadi terbiasa hidup disiplin. Makanya saat tahu kalau uang untuk modal itu bentuknya pinjaman, aku dengan disiplin mengembalikan uang pinjaman tersebut setiap bulannya sampai lunas."


Tapi lagi-lagi, Mita menganggap itu sebagai tantangan besar dan penting untuk dirinya. Pada akhirnya, perjuangan Mita berbuah manis. Setelah berhasil melewati masa-masa sulit itu, keberadaan BYARRA perlahan mulai menanjak.


Kantor yang awalnya hanya sewa, perlahan akhirnya bisa ia beli. Jumlah karyawan yang tadinya sedikit, lama-lama mulai bertambah.


“Dulu, aku pernah ditinggal sama karyawan-karyawanku. Suatu hari aku datang ke kantor, kantornya kosong tidak ada orang. Mereka mendapat kesempatan bekerja di tempat lain, sehingga memilih untuk meninggalkan BYARRA. Aku lumayan terpukul pada saat itu. Tetapi kemudian aku berpikir: aku percaya bahwa kalkulator Tuhan tidak pernah salah. Puji Tuhan setelah itu, aku dapat karyawan lagi yang secara desain dan selera jauh lebih bagus daripada sebelumnya,” ungkap Mita.



  • PAGE
  • 1
  • 2

You Might Also LIke