×

Stay in The know

Career & Money

Mengenal Zoom Fatigue: Rasa Lelah yang Muncul Karena Virtual Meeting

Mengenal Zoom Fatigue: Rasa Lelah yang Muncul Karena Virtual Meeting
Andiasti Ajani

Wed, 13 May 2020 at 14.04

Siapa di antara Anda yang sedang atau sudah mengalami fase ini?

Durasi baca: 1 menit.


Selama masa karantina di rumah, sudah berapa meeting yang Anda jalani secara virtual? Satu, dua, tiga, atau sudah mencapai angka puluhan bahkan ratusan? Awalnya, virtual meeting adalah sebuah fenomena yang menyenangkan karena menjadi rutinitas baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh sebagian orang.


Namun jika dilakukan terlalu sering, terlebih bila bahasan saat meeting tidak terlalu penting, justru membuat siapapun yang ada di dalamnya malas untuk join. Mereka memutuskan untuk bergabung dalam meeting tersebut, hanya karena formalitas belaka.


Apabila Anda saat ini sedang atau sudah melewati fase tersebut, maka tandanya Anda telah mengalami gangguan bernama zoom fatigue. Zoom fatigue, adalah sebuah istilah baru yang diciptakan, untuk menggambarkan mereka yang kelelahan pasca melakukan virtual meeting.


Melansir dari bbc.com, seorang associate professor bernama Gianpiero Petriglieri mengungkapkan bahwa ternyata, melakukan virtual meeting itu jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan rapat secara langsung. Mengapa?


Karena ketika melakukan virtual meeting, Anda dituntut untuk lebih fokus dua kali lipat, plus menjaga situasi di rumah untuk tetap kondusif selama virtual meeting berlangsung. Selain itu, ketika virtual meeting Anda juga diharuskan untuk memerhatikan berbagai bahasa isyarat yang ditunjukkan oleh tim.

(BACA JUGA: Zumping, Istilah Baru Soal Putus Cinta Via Aplikasi Zoom)




Mulai dari ekspresi wajahnya, nada bicaranya, sampai bahasa tubuhnya. Fokus-fokus semacam inilah yang kemudian membuat energi lebih cepat habis saat virtual meeting. Recehnya, Anda tidak bisa lagi memberikan kode-kode kepada rekan-rekan Anda, jika mungkin atasan Anda baru saja mengungkapkan ide yang hmm... tidak masuk akal.


“Pikiran dan tubuh itu satu kesatuan. Ketika pikiran kita tidak nyaman akan satu hal, maka tubuh secara otomatis akan menangkap sinyal tersebut. Disonansi yang terjadi ini, membuat perasaan Anda campur aduk dan akhirnya muncul rasa lelah. Anda pada akhirnya jadi tidak bisa melakukan komunikasi dengan tim dalam bahasa yang alami alias terpaksa,” tutur Petriglieri yang ahli di bidang suistanable learning and development di tempat kerja.


Sekarang bayangkan, jika perasaan semacam ini dirasakan oleh anak-anak Anda. Menjadi wajar bukan ketika belakangan ini mereka sering tantrum atau tidak mau melakukan virtual studying. Percayalah faktornya bukan hanya karena mereka malas belajar.


Tetapi tubuhnya mulai kelelahan karena rutin melakukan virtual studying hampir setiap hari. Fenomena zoom fatigue tidak hanya hadir via aplikasi Zoom. Tetapi juga aplikasi video call lainnya. Mulai dari Google Hangouts, Skype, FaceTime, WhatsApp, dan lain sebagainya


(Andiasti Ajani, foto: gabriel benois, visuals/unsplash.com)

You Might Also LIke