×

Stay in The know

Motherhood

Jangan Biarkan Sifat Negatif Pada Anak Ini Menjadi Sebuah Kebiasaan

Jangan Biarkan Sifat Negatif Pada Anak Ini Menjadi Sebuah Kebiasaan
Saskia Damanik

Tue, 4 August 2015 at 00.31


Mungkin Anda pernah melihat seorang anak nangis sekencang-kencangnya, sambil berteriak, dan terduduk di lantai—kita biasa menyebutnya dengan nangis kejer—di sebuah pusat perbelanjaan. Orang tuanya pun hanya membiarkan si anak puas menangis dengan alasan nanti kalau capek akan diam sendiri. Melihat hal ini Anda menjadi sangat kesal dan berjanji dalam hati jangan sampai hal tersebut pada anak kita sendiri. 

Sebenarnya sifat buruk seorang anak itu harus diatasi bukan dibiarkan begitu saja. Anak yang menginjak usia 2-5 tahun akan mulai mengalami gejolak emosi dan perubahan tingkah laku. Pasa masa inilah Anda harus bisa menjadi pembimbing dan apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan katakan.

Jika Glitzy mengalami hal-hal berikut ini terjadi secara berlebihan pada buah hati sebaiknya segera diatasi...


Menangis Cengeng 

Emosi dan rasa marah anak yang meluap bisa menyebabkan tangisan dan berujung menjadi cengeng. Biasanya, ketika anak tidak menemukan jalan keluar, tangisanlah yang dianggap menjadi solusi untuk mencari perhatian dari orang tua atau orang terdekatnya. Untuk kasus tertentu menangis menjadi wajar, tapi jika tangisan cengeng terlalu sering Anda dengar tentu saja ini akan menjadi kebiasaan buruk. 

Saat permintaan anak tak dituruti tangisan diandalkan menjadi satu bentuk pemaksaan. Biasakan untuk menjelaskan alasan dan pengertian kepada anak saat Anda melarang atau menolak keinginannya. Jangan mendiamkannya, membuat anak terlanjur menangis, dan setelah itu Anda hanya berakhir pada memarahinya.


Minder dan Penyendiri 

Anak mengumpat di belakang badan Anda saat mengenalkannya pada orang lain? Ini menjadi gejala awal anak minder. Dengan wajar sedikit muram, dia terlihat tidak percaya diri melihat teman-teman di sekitar rumah. Sebisa mungkin Anda harus berperan mengenalkan lingkungan lain di luar lingkungan keluarga sendiri. 

Coba berikan kegiatan baru yang bisa memancingkan rasa sosialisasi anak. Bermain dengan tetangga, masuk ke play group maupun sekolah, hingga daftarkan dirinya mengikuti kursus bakat yang dia inginkan. Mau tak mau anak akan belajar beradaptasi dengan lingkungan lain. Semakin banyak bertemu dengan teman-teman seusianya dan orang lain, akan baik menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.  




Keras Kepala dan Susah Diatur

Tingkah laku anak yang sedikit di luar aturan sering menjadi kendala. Anak menjadi susah diatur dan bertindak semaunya. Pada kondisi ini sebaiknya Anda harus bisa bersikap tegas—bukan emosional. Anda harus berkomunikasi dan mendekatkan diri lebih intens kepada anak untuk selalu mengarahkan pola pikir dan tingkah laku tetap sesuai kesopansantunan. Jika tingkah laku anak melanggar aturan yang sudah dibuat, sesekali Anda bisa memberikan hukuman, namun bukan berupa kekerasan, melainkan teguran dan pengertian. 


Sifat Kasar dan Melawan

Kata-kata melawan dengan nada bicara kasar belakangan sering Anda dengan keluar dari mulut anak. Hal kasar biasanya dilakukan karena mencontoh kejadian yang dia lihat. Coba cari tahu kegiatan anak dalam sebulan terakhir, dengan siapa dia berteman atau bersosialisasi selama ini. 

Tak menutup kemungkinan besar anak pun melihat perilaku dari orang-orang terdekat di keluarganya sendiri. Anda harus bisa memberikan contoh tingkah laku yang baik sebelum menegurnya. Menanamkan jiwa sopan santun dan moral berawal dari tempat anak tinggal dan dibesarkan. 

(Saskia Damanik/Elizabeth Puspa, Image: Corbis)

You Might Also LIke