×

Stay in The know

Health & Body

Memahami Kerja Otak Saat Seseorang Mengalami Near Death Experience Alias Mati Suri

Memahami Kerja Otak Saat Seseorang Mengalami Near Death Experience Alias Mati Suri
Saskia Damanik

Mon, 18 July 2016 at 09.00

Bukan cerita mistis, pengalaman mati suri—atau near death experience—dapat dijelaskan secara psikologis.

Beberapa tahun lalu, mungkin beberapa diantara Anda ada yang pernah mengetahui kasus mati suri—near death experience (NDE)—yang terjadi pada artis cantik Puput Melati. Menurutnya, ia sempat mengalami NDE dan melihat sosok dengan jubah putih dan bercahaya. Tak hanya Puput Melati yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Banyak orang di dunia mengalami kejadian NDE dengan cerita pengalaman berbeda.

Saat mengalami NDE, seseorang biasanya melihat terowongan dengan cahaya putih, berkumpul dengan keluarga atau rekan yang sudah meninggal, merasa ada di surga, atau justru melihat pemandangan yang diyakini sebagai neraka. Sebenarnya, apakah yang terjadi pada otak seseorang yang mengalami pengalaman-pengalaman tertentu saat mati suri? Is it paranormal or normal?

Untuk mengungkapnya, Dean Mobbs—peneliti kesehatan asal Cambridge—dan Caroline Watt psikolog dari University of Eidenburgh melakukan penelitian tentang pengalaman NDE yang dialami oleh seseorang. Penelitian ini ia lakukan karena nyatanya 3% penduduk Amerika Serikat mengaku pernah mengalami NDE.

Dalam penelitian tersebut, keduanya mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh P. Van Lommel. Lommel menemukan bahwa terdapat empat pengalaman berbeda dari mereka yang pernah mengalami NDE, yaitu merasa dekat dengan kematian, merasa keluar dari tubuhnya, ataupun berjalan di lorong bercahaya, bertemu dengan orang yang sudah tiada. 

Penelitian tersebut juga mengungkapkan jika 56% selalu mengalami pengalaman positif dan sisanya pengalaman negatif. Sebenarnya, apa yang terjadi?


Merasa Dekat dengan Kematian

Salah seorang neurologi (ahli syaraf) asal Prancis, Jules Cotard, mengungkapkan jika hal ini diakibatkan oleh sindrom yang bernama delusional. Delusional membuat penderita akan melihat hal-hal tak nyata yang tervisualisasi akibat terganggunya kondisi otak bagian tengah akibat hal-hal tertentu. Salah satu pasien Cotard bahkan mengalaminya karena demam saat flu. Ilusi ini akan hilang seiring dengan membaiknya otak pasien setelah beberapa minggu.



Keluar dari Tubuh

Pengalaman keluar dari tubuh—atau out-of-body experience—adalah kondisi di mana seseorang merasa jiwanya melayang. Beberapa diantaranya disertai dengan melihat tubuhnya sendiri. Bagaimana para pakar menjelaskan pengalaman ini? 

Menurut neurolog asal Kanada, Wilder Penfield, permasalahan di balik pengalaman ini adalah otak. Biasanya pengalaman ini dialami oleh seseorang yang memiliki gangguan saat tidur. Gangguan saat tidur ini dapat disebabkan oleh otak Anda yang terus berpikir di saat tubuh sudah sangat lelah. Karena hal ini, Anda dapat mengalami hypnagogia, yaitu kondisi saat seseorang tak sadar sepenuhnya dan tak tidur sepenuhnya. Kondisi ini membuat seseorang merasa seperti melayang.


Terowongan Menuju Cahaya

Banyak yang mengalami dirinya berjalan di lorong gelap dengan ujung bercahaya—seolah berjalan dari dunia yang gelap menuju dunia lain yang bercahaya. Hal ini dijelaskan akibat turunnya tekanan darah secara tiba-tiba selama 5–8 detik. Akibat turunnya tekanan darah ini, retina mengalami proses kerja tertentu yang membuat adanya efek terowongan bercahaya.

Biasanya, penderita gangguan pengelihatan seperti glukoma sering mengalami hal terkait. Menurunnya tekanan darah secara tiba-tiba ini tentu menimbulkan rasa takut dan menurunnya kadar oksigen yang bisa menyebabkan kematian. Kondisi ini menyebabkan menurunnya kerja sel-sek tertentu yang menyebabkan orang yang mengalaminya melihat titik terang di bagian tengah dan gelap di sekitarnya. Inilah yang kemudian mereka sebut dengan terowongan menuju dunia yang bercahaya.




Bertemu Orang Yang Sudah Meninggal

Biasanya, hal ini dialami oleh orang-orang yang menderita brain pathology atau gangguan pada fungsi otak. Kerusakkan pada otak ini membuat penderita mengalami gangguan pengelihatan sehingga mereka melihat hal-hal yang seolah dekat dengan dunia paranormal. Misalnya saja hantu, orang yang sudah meninggal, sosok malaikat, hingga monster. Hal ini tentu saja diakibatkan oleh halusinasi. Biasanya, penderita demensia, Alzheimer atau Parkinson seringkali mengalaminya.


Emosi Positif

Sebagian dari mereka akan merasakan damai disertai dengan bayangan yang berada di tempat menyenangkan. Namun secara medis, hal ini dialami pasien yang biasanya diberi obat penenang. Reaksi seseorang dapat berbeda saat diberikan obat penenang atau penghilang rasa sakit dengan dosis tertentu. Tak heran jika pasien merasa tenang dan damai, seolah telah menerima kematiannya. 

Tak hanya itu, hal ini juga dapat dirasakan apabila seseorang tersebut mengalami  mati suri pasca sebuah kejadian yang traumatis. Hal ini sama dengan apa yang dialami binatang saat dimangsa predator. Sistem dopamin dan opioid akan bekerja saat seseorang atau hewan mengalami situasi yang sangat membahayakan. Dengan bekerjanya sistem ini, maka mahluk hidup akan merasa seperti menerima kematiannya.


Dari penjelasan berbagai penelitian di atas, Mobbs dan Watt menyimpulkan bahwa gangguan pada otak tengah dapat menyebabkan seseorang mengalami pengalaman-pengalaman yang seolah seperti pengalaman paranormal. Hal-hal ini pula yang membuat seseorang dapat berubah setelah mengalami NDE. Dengan mengetahui alasan medis dan psikologisnya, Anda jadi tahu bagaimana saat menghadapi kondisi-kondisi terkait, Glitzy.

(Shilla Dipo, Images: Corbis)

You Might Also LIke